Perum Plamongan Hijau Jl.Plamongan Permai II No.390 Semarang-Jawa Tengah.

LIABILITAS JANGKA PANJANG (KEWAJIBAN JANGKA PANJANG).

LIABILITAS JANGKA PANJANG

Liabilitas Jangka Panjang (Kewajiban jangka Panjang) merupakan kewajiban yang pelunasannya lebih dari satu periode akuntansi. Sumber hutang jangka panjang dapat diperoleh melalui berbagai sumber, diantaranya adalah dari perusahaan lain, investor, maupun bank. Sumber modal berupa hutang dapat digunakan untuk proses produksi, distribusi, pemasaran, upah karyawan, research dan development, pembiayaan alat dan perawatan alat.

Liabilitas Jangka Panjang (Kewajiban jangka Panjang) atau disebut juga hutang jangka panjang memiliki definisi sebagai suatu pengorbanan ekonomi dengan kemungkinan yang sangat besar terjadi dimasa depan akibat dari kewajiban masa kini yang belum dibayarkan pada suatu periode akuntansi tergantung jangka waktu yang lebih lama. Baridwan (2000:365) menjelaskan bahwa “hutang jangka panjang digunakan untuk menunjukkan hutang-hutang yang pelunasannya dilakukan dalam waktu lebih dari satu tahun atau akan dilunasi dari sumber-sumber yang bukan dari kelompok aktiva lancar”.

Liabilitas Jangka Panjang (Kewajiban jangka Panjang) dapat berupa :

  1. Utang Obligasi (Bond Payable). Perusahaan – perusahaan besar tidak dapat meminjam uang miliaran dari satu pemberi pinjaman (kreditor). Dengan demikian perusahaan tersebut dapat menerbitkan (menjual) obligasi kepada publik.
  2. Utang Hipotik (Mortage Notes Payable). Utang hipotik yaitu suatu jenis pinjaman (utang) jangka panjang dengan jaminan benda-benda tidak bergerak.
  3. Wesel Bayar Jangka Panjang (Long Term Notes). Wesel yang berjangka waktu minimum 30 hari, biasanya wesel jangka panjang ini ditarik antara 60-90 hari setelah diterbitkan.
  4. Kewajiban Lease. Lease adalah kesepakatan sewa dimana penyewa (lessee) sepakat untuk membayar sewa kepada pemilik properti (lessor) atas penggunaan aset.
  5. Kewajiban Pensiun/Pasca pensiun. Secara umum terdapat dua dasar sehubungan dengan kewajiban pascapensiun yaitu kontribusi pasti dan manfaat pasti. Dalam kontribusi pasti, karyawan menyetorkan jumlah uang yang tetap kepada dana pensiun. Kewajiban perusahaan akan berakhir sejak kontribusi dilakukan.
  6. Perjanjian-perjanjian dengan pembayaran angsuran. Dalam operasional normal perusahaan, rekening hutang jangka panjang tidak pernah dikenai oleh transaksi pengeluaran kas.

Memiliki hutang jangka panjang dengan obligasi, memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah :

  1. Bunga obligasi yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan deviden yang harus dibayarkan kepada pemegang saham.
  2. Mengurangi kewajiban pajak, hal ini dikarenakan bunga pinjaman merupakan biaya yang dibebankan kepada perusahaan. Sedangkan deviden merupakan pembagian laba yang tidak dapat dikategorisasikan sebagai pembebanan biaya.
  3. Pemilik obligasi tidak akan memiliki hak suara dalam perusahaan, sehingga tidak akan mempengaruhi manajemen dan operasional harian perusahaan.

Beberapa resiko hutang jangka panjang diantaranya adalah :

  1. Semakin lama jangka waktu peminjaman dana dan pelunasannya maka resiko juga akan semakin tinggi.
  2. Hanya dapat memperoleh sumber dana yang terbatas dari hasil pinjaman.
  3. Hutang merupakan beban tetap yang harus ditanggung oleh perusahaan.
  4. Memiliki tenggat waktu jatuh tempo pembayaran hutang yang sudah pasti/tetap.
  5. Kemungkinan nilai saham perusahaan akan turun akibat tingkat tinggi atau rendah jumlah pinjaman